Sapi Sonok dan Sapi Taccek merupakan salah satu seni budaya khas dari Pulau Madura disamping seni budaya lain yang ada. Seni budaya sapi Taccek dan sapi Sonok ini berpusat di daerah utara Kabupaten Pamekasan, yaitu Kecamatan Waru, Kecamatan Pasean dan Kecamatan Batumarmar.
Seni budaya ini merupakan kebanggaan
Pulau Madura khususnya Kabupaten Pamekasan dan telah menjadi icon
Provinsi Jawa Timur pada umumnya yang harus tetap dilestarikan. Selain
sebagai sumber budaya, sapi Taccek dan sapi Sonok juga merupakan
kesenangan, tabungan dan simbol status bagi masyarakatnya. Para
Peternaknya sangat menyayangi ternak sapinya sehingga merawat ternaknya
sebaik mungkin, karena bagi mereka memiliki ternak yang bagus dan sehat
merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Sapi Sonok merupakan sepasang
sapi Madura betina yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil menawan
dan dirangkai dengan sebuah “Pangonong” (sebuah kayu penghubung antara
kedua sapi) untuk diperagakan. Sapi Sonok ini telah terampil mengikuti
instruksi joki atau pengemudi dengan langkah jalan “Neter Kalenang”
(secara perlahan) memasuki sebuah gapura sebagai batas akhir lomba dan
berdiri tegak dengan kaki depan berada diatas balok kayu. Seni budaya
ini telah ada sejak tahun 1951 tepatnya di Desa Dempo Barat, yang pada
saat itu merupakan wilayah Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan dan saat
ini telah mendapatkan Hak Paten dari Kementerian Hukum dan HAM Republik
Indonesia pada Tahun 2009. Tidak semua sapi Madura bisa dijadikan sapi
Sonok. Untuk bisa menjadi sapi Sonok, sapi Madura tersebut harus dilatih
sejak dari lepas sapih (pedet) yaitu umur lima bulan hingga dewasa.
Pelatihannya meliputi cara melangkah dengan pelan, teratur dan anggun
serta kaki depan bisa berdiri dengan tenang diatas sebuah balok kayu.
Untuk kontes di tingkat kabupaten, Sapi Sonok dibagi menjadi tiga
kriteria, yaitu: kelas pedet (umur 5 bulan sampai 18 bulan), kelas dara
(umur 19 bulan sampai 3 tahun) dan kelas induk ( mulai umur tiga tahun
keatas). Sedangkan untuk kontes sapi Sonok semadura yang diambil hanya
kriteria kelas induknya saja.
Sapi Taccek atau sapi Pajangan adalah
sapi Madura yang dipajang dan berdiri tenang dengan kaki depan berada
diatas balok kayu. Untuk sapi Taccek, kriteria kontesnya sama dengan
sapi Sonok, yaitu: kelas pedet, kelas dara dan kelas induk dengan
batasan umur sama dengan sapi Sonok. Sapi Taccek ini dilatih mulai dari
pedet lepas sapih dengan cara di pajang dihalaman dengan diikat pada
Taccek. Taccek adalah beberapa kayu yang dipotong dengan panjang ± 2
meter yang ditancapkan dengan jarak ± 1 meter yang tengahnya diberi batu
bata atau kayu untuk tempat sepasang kaki depan. Dipajang pagi hari
mulai pukul 7:00 – 10:00 WIB dan sore hari mulai pukul 14:00 hingga
16:00 WIB. Latihan akan terus dilakukan hingga sapi tersebut bisa
berdiri dengan tenang dengan kaki depan berada diatas balok kayu. Taccek
ini memiliki beberapa manfaat, yaitu:
1. Tempat memandikan sapi sekaligus mengeringkkannya
2. Tempat menjemur sapi di pagi hari
3. Tempat membersihkan atau memotong kuku, bulu dan tanduk
4. Tempat mengawinkan baik secara alami maupun secara inseminasi buatan
5. Tempat pelayanan kesehatan sapi seperti mengobati/ menyuntik
Karena banyak manfaat yang bisa diambil dari taccek ini, maka para peternak sapi menyediakan taccek (pajangan) di halaman rumahnya.
1. Tempat memandikan sapi sekaligus mengeringkkannya
2. Tempat menjemur sapi di pagi hari
3. Tempat membersihkan atau memotong kuku, bulu dan tanduk
4. Tempat mengawinkan baik secara alami maupun secara inseminasi buatan
5. Tempat pelayanan kesehatan sapi seperti mengobati/ menyuntik
Karena banyak manfaat yang bisa diambil dari taccek ini, maka para peternak sapi menyediakan taccek (pajangan) di halaman rumahnya.
Untuk menjadi sapi Sonok dan sapi Taccek
harus memenuhi kriteria khusus meliputi penampilan tubuh/ performa yang
bagus, bulu yang bagus, halus, warna dominan merah bata dan kuning
seperti warna padi. Semua sapi Sonok merupakan Sapi Taccek. Tapi tidak
semua Sapi Taccek merupakan sapi Sonok. Pemilihannya juga dilakukan
berdasar seleksi genetis atau berasal dari hasil perkawinan antara
indukan sapi Sonok dan pejantan Pemacek unggulan. Bisa melalui Kawin
Alam dan Inseminasi Buatan. Dengan asumsi jika induknya sapi Sonok
dikawinkan dengan Pejantan Pemacek unggulan, maka akan menghasilkan
anakan yang tidak jauh berbeda performanya dari induknya.
Seni budaya sapi Sonok dan sapi Taccek
ini mendapat pembinaan dari Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan melalui
petugas teknis dan medis/paramedis yang bertugas di wilayah tersebut,
dengan melakukan pendekatan kepada masyarakat baik secara personal
maupun kelompok. Pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan meliputi
:
1. Pelayanan Kesehatan Hewan
Pelayanan kesehatan hewan meliputi pengobatan hewan dan vaksinasi.
2. Teknologi Inseminasi Buatan
Dalam pemilihan pejantan Pemacek, Balai Inseminasi Buatan Singosari melalui Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan melibatkan masyarakat setempat untuk melakukan seleksi pejantan Pemacek unggulan, Sehingga masyarakat tahu asal usul sapi pemacek yang akan digunakan untuk IB. Karena pada awalnya peternak tidak mau menggunakan program IB karena tidak tahu asal-usul sapi pemacek sehingga tetap menggunakan Kawin Alam yang jelas asal usulnya. Setelah ada keterlibatan masyarakat dalam seleksi pejantan Pemacek, maka saat ini akseptor IB untuk sapi Sonok meningkat menjadi 80% dari total sapi Sonok yang ada.
3. Pertemuan Rutin
Dinas Peternakan mengadakan pendampingan melalui pertemuan rutin yang diadakan oleh Paguyuban sapi Sonok dan sapi Taccek setiap 3 bulan sekali dan satu tahun sekali untuk menjembatani keinginan peternak serta membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.
1. Pelayanan Kesehatan Hewan
Pelayanan kesehatan hewan meliputi pengobatan hewan dan vaksinasi.
2. Teknologi Inseminasi Buatan
Dalam pemilihan pejantan Pemacek, Balai Inseminasi Buatan Singosari melalui Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan melibatkan masyarakat setempat untuk melakukan seleksi pejantan Pemacek unggulan, Sehingga masyarakat tahu asal usul sapi pemacek yang akan digunakan untuk IB. Karena pada awalnya peternak tidak mau menggunakan program IB karena tidak tahu asal-usul sapi pemacek sehingga tetap menggunakan Kawin Alam yang jelas asal usulnya. Setelah ada keterlibatan masyarakat dalam seleksi pejantan Pemacek, maka saat ini akseptor IB untuk sapi Sonok meningkat menjadi 80% dari total sapi Sonok yang ada.
3. Pertemuan Rutin
Dinas Peternakan mengadakan pendampingan melalui pertemuan rutin yang diadakan oleh Paguyuban sapi Sonok dan sapi Taccek setiap 3 bulan sekali dan satu tahun sekali untuk menjembatani keinginan peternak serta membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Seiring dengan berjalannya waktu,
Paguyuban ini bisa dikatakan berkembang sangat pesat. Pada tahun 1990-an
jumlah Paguyuban sapi Taccek berjumlah 15 kelompok yang tersebar di
Kecamatan Pasean sebanyak 11 kelompok, Kecamatan Waru 3 kelompok,
kecamatan Batumarmar 1 kelompok. Saat ini jumlah kelompok Sapi Taccek
berkembang menjadi 49 kelompok, meliputi Kecamatan Waru 15 kelompok,
Kecamatan Pasean 22 kelompok, dan Kecamatan Batumarmar 12 kelompok. Pada
paguyuban sapi Sonok, pada tahun 1990-an beranggotakan 2 kelompok
dengan jumlah sapi Sonok 18 pasang, saat ini telah berkembang menjadi 8
kelompok dengan jumlah sapi Sonok 388 pasang. Pembinaan ini bertujuan
untuk mempertahankan dan melestarikan sapi Madura sebagai Plasma Nutfah.
Dengan adanya pembinaan ini serta respon yang baik dari masyarakat
diharapkan seni budaya ini tetap ada di masa-masa mendatang .
sumber: http://disnak.pamekasankab.go.id/index.php/berita/146-profil-pembinaan-sapi-sonok-dan-sapi-taccek-di-kabupaten-pamekasan-2
0 komentar:
Posting Komentar